10 Suku yang Ada di Bali dan Fakta Budayanya

Tri7travel.com – Suku yang ada di Bali tidak hanya suku Bali. Berdasarkan data statistik BPS, masyarakat di Provinsi Bali juga berasal dari berbagai suku bangsa lain, seperti Jawa, Madura, Melayu, Sasak, Sunda, Bugis, dan Flores.

Keragaman tersebut terbentuk melalui sejarah panjang perpindahan penduduk, hubungan antardaerah, perdagangan, perkawinan, serta mobilitas masyarakat. Karena itu, pertanyaan tentang berapa suku yang ada di Bali tidak bisa dijawab hanya dengan satu angka tanpa menjelaskan klasifikasi yang digunakan.

Di sisi lain, Bali memiliki kelompok masyarakat adat yang sangat khas, salah satunya Bali Aga atau Bali Mula. Kelompok ini masih mempertahankan berbagai tradisi, tata kehidupan, bahasa, dan aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Suku yang ada di Bali apa saja?

Jika mengacu pada pemetaan BPS berdasarkan Sensus Penduduk 2000 dan 2010, terdapat setidaknya 10 kelompok suku bangsa yang masuk dalam daftar terbesar di Provinsi Bali, yaitu Bali, Jawa, Madura, Melayu, Sasak, Bali Aga, Tionghoa, Sunda, Bugis, dan Flores.

Daftar tersebut sebaiknya dipahami sebagai kelompok suku bangsa yang teridentifikasi dalam pemetaan statistik, bukan sebagai daftar mutlak seluruh kelompok etnis yang tinggal di Bali. Populasi Bali juga terus berubah karena migrasi dan mobilitas penduduk.

Berikut gambaran sederhananya:

Suku atau kelompokGambaran umum
BaliKelompok suku bangsa utama di Bali
JawaKomunitas Jawa yang tinggal di berbagai wilayah Bali
MaduraKomunitas Madura yang juga menjadi bagian dari keragaman Bali
MelayuKelompok Melayu yang tercatat dalam pemetaan suku di Bali
SasakBerasal dari Lombok dan memiliki hubungan geografis dekat dengan Bali
Bali AgaMasyarakat Bali dengan tradisi dan adat khas
TionghoaKomunitas Tionghoa yang telah lama menjadi bagian masyarakat Bali
SundaKomunitas Sunda yang tinggal di Bali
BugisKomunitas Bugis yang tersebar di berbagai daerah Indonesia, termasuk Bali
FloresKomunitas dari Flores yang juga ditemukan di Bali

Pemetaan BPS tersebut menjadi salah satu rujukan yang berguna untuk menjawab pertanyaan “apa saja suku yang ada di Bali”. Namun, daftar masyarakat Bali jauh lebih kompleks jika dilihat dari sisi adat, desa adat, sejarah lokal, dan komunitas pendatang.

1. Suku Bali

Suku Bali merupakan suku bangsa utama yang mendiami Pulau Bali. BPS menyebut suku Bali sebagai suku dengan penduduk terbesar di Provinsi Bali.

Kebudayaan masyarakat Bali dikenal melalui berbagai unsur yang saling berkaitan, mulai dari bahasa, kesenian, sistem sosial, upacara adat, arsitektur tradisional, hingga kehidupan desa adat.

Salah satu karakter penting masyarakat Bali adalah kuatnya hubungan antara kehidupan sosial, agama, adat, dan lingkungan. Karena itu, budaya Bali tidak hanya terlihat dalam upacara keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

2. Bali Aga atau Bali Mula

Bali Aga merupakan salah satu kelompok masyarakat Bali yang memiliki tradisi dan sistem adat khas. Istilah Bali Aga, Bali Mula, Bali Kuna, atau Bali Tua digunakan dalam berbagai konteks untuk merujuk pada komunitas atau desa tradisional yang mempertahankan warisan adat tertentu. Pemerintah Provinsi Bali juga mengakui keberadaan Desa Bali Aga dalam kerangka desa adat.

Masyarakat Bali Aga dapat ditemukan antara lain di wilayah pegunungan dan sejumlah desa tradisional di Bali. Tradisinya memiliki karakter yang berbeda dari masyarakat Bali dataran yang berkembang kuat setelah pengaruh Majapahit.

Contoh wilayah yang sering dikaitkan dengan Bali Aga antara lain Tenganan di Karangasem, Trunyan di Bangli, serta sejumlah desa di Buleleng.

https://images.openai.com/static-rsc-4/pSotlRxdTDbCL9N9naFN7WBYy2s5_-baMn0gcOqt-IBaXQG2yFZSPAIWGVWvZXHYtOlHwo_cvngctghvNdcE6GKZDWc6ybp0zCGa_cjYDMWUVpXcQ08_I8GuE-bx_bMagCVyjeeZTeGSXYytQwt9ppu2aTKXkApQIXLJx0klg3Io004yI6dU_gCe0yMpTfN6?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/mdwA0cD0UGqcsGfO9UciXCfYUaRXjsl9FWA4bjtfUtQI7bUp7BObaPpSDw5PL6g4c7UqKXf3bm3_btdd4PG0oUIfVAjlj3rFGCnRpjaJq_Ef7Ckhof3FKyJUxvVuQlnEH6XlK3lT1p8eW_E8L3FH7Zn2OACr8Xby5hkNSOG4A87bXIwAn7MGcQh6_MoeT1Gc?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/PE4lZKB6VQtiL-brtB0FpP4GpvkQ9p4cvnCw7y3UJWCs7CZdmHuAZil4onOY1_tl8Vem5cq6dcpUnq1kmxAD76048k8En1rXsqzs7D7cndpskL7BjZ3ZBYgK4aeAheI33gS58rdxm3FqZpYKgN3LeuXvbFnqdnlhA0NAwCCHGr9q-uBg2vD_8ybO7k9_XgcB?purpose=fullsize

6

Desa Tenganan, misalnya, dikenal sebagai salah satu desa tradisional Bali Aga. Pemerintah melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali mencatat bahwa Tenganan mempertahankan pola kehidupan, tata ruang, bangunan, dan aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Di Buleleng, keberadaan Bali Aga juga dapat ditemukan di sejumlah desa seperti Sidetapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, Banyuseri, Sembiran, dan Julah. Pemerintah Kabupaten Buleleng mencatat tujuh desa Bali Aga di wilayah tersebut.

3. Suku Jawa

Suku Jawa termasuk kelompok masyarakat yang banyak ditemukan di luar Pulau Jawa, termasuk Bali. BPS memasukkan Jawa dalam daftar kelompok suku bangsa terbesar yang teridentifikasi dalam pemetaan Provinsi Bali.

Keberadaan masyarakat Jawa di Bali merupakan bagian dari dinamika migrasi dan mobilitas penduduk antarpulau. Masyarakat Jawa yang tinggal di Bali dapat menjalankan kehidupan sosial dengan mempertahankan sebagian tradisi asal sekaligus berinteraksi dengan budaya lokal Bali.

BPS juga mencatat bahwa penduduk Bali memiliki sejarah migrasi yang cukup dinamis. Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 mencatat angka migrasi seumur hidup Provinsi Bali sebesar 6,10 persen, yang berarti sekitar 6 dari setiap 100 penduduk Bali lahir di provinsi lain.

4. Suku Madura

Suku Madura juga termasuk dalam kelompok suku yang tercatat dalam pemetaan penduduk Provinsi Bali. BPS menempatkan Madura sebagai salah satu dari 10 kelompok suku bangsa terbesar yang dipetakan berdasarkan Sensus Penduduk 2000 dan 2010.

Masyarakat Madura di Bali menjadi bagian dari masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda dengan masyarakat Bali. Kehadiran komunitas tersebut memperlihatkan bahwa Bali bukan wilayah yang dihuni oleh satu kelompok etnis saja.

5. Suku Sasak

Suku Sasak berasal dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang secara geografis sangat dekat dengan Bali. Karena kedekatan wilayah tersebut, hubungan masyarakat Bali dan Sasak sudah berlangsung lama.

Sasak juga tercatat sebagai salah satu kelompok suku bangsa dalam pemetaan Provinsi Bali.

Dalam konteks yang lebih luas, suku Sasak merupakan salah satu kelompok etnis utama di kawasan Bali dan Nusa Tenggara. BPS mencatat Bali, Sasak, Atoni Metto, Manggarai, dan Bima sebagai kelompok suku bangsa terbesar dalam kelompok pulau Bali dan Nusa Tenggara berdasarkan data yang disajikan dalam publikasi statistik suku bangsa.

6. Suku Melayu

Suku Melayu juga masuk dalam daftar kelompok suku bangsa yang tercatat di Provinsi Bali. Jumlah dan persebarannya tentu berbeda dengan suku Bali sebagai kelompok mayoritas.

Masyarakat Melayu sendiri memiliki persebaran luas di Indonesia sehingga keberadaannya di Bali merupakan bagian dari mobilitas masyarakat antardaerah.

7. Suku Tionghoa

Komunitas Tionghoa juga termasuk kelompok masyarakat yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial di Bali. Dalam pemetaan BPS mengenai 10 besar sebaran penduduk berdasarkan suku bangsa di Bali, kelompok Tionghoa tercatat dalam daftar tersebut.

Keberadaan komunitas Tionghoa di Bali juga memperkaya keragaman budaya, terutama dalam bidang perdagangan, kuliner, tradisi keluarga, dan kehidupan perkotaan.

8. Suku Sunda

Suku Sunda berasal dari wilayah Jawa Barat dan Banten, tetapi masyarakat Sunda juga dapat ditemukan di Bali.

Dalam data pemetaan BPS berdasarkan Sensus Penduduk 2000 dan 2010, Sunda termasuk 10 kelompok suku bangsa yang tercatat di Provinsi Bali.

Jumlahnya tentu tidak sebesar masyarakat Bali, tetapi keberadaannya menunjukkan tingginya mobilitas penduduk antara Bali dan wilayah lain di Indonesia.

9. Suku Bugis

Suku Bugis merupakan salah satu kelompok etnis besar di Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah. Bali juga menjadi salah satu wilayah tempat masyarakat Bugis tinggal.

Dalam pemetaan BPS terhadap kelompok suku bangsa di Bali, Bugis termasuk dalam daftar 10 besar.

Masyarakat Bugis memiliki sejarah panjang dalam aktivitas pelayaran, perdagangan, dan perpindahan penduduk antarpulau. Hal tersebut ikut menjelaskan mengapa komunitas Bugis dapat ditemukan jauh dari Sulawesi Selatan.

10. Suku Flores

Flores juga tercatat dalam daftar 10 besar kelompok suku bangsa yang dipetakan BPS di Provinsi Bali.

Kedekatan Bali dengan wilayah Nusa Tenggara membuat perpindahan penduduk dari wilayah timur relatif penting dalam memahami keragaman masyarakat Bali.

Berapa suku yang ada di Bali?

Pertanyaan “berapa suku yang ada di Bali?” tidak memiliki satu jawaban sederhana. Jumlahnya bergantung pada definisi suku, tahun sensus, serta apakah yang dihitung hanya kelompok terbesar atau seluruh kelompok etnis yang tinggal di Bali.

Salah satu rujukan BPS yang secara khusus memetakan sebaran suku bangsa Provinsi Bali menyebut 10 kelompok terbesar, yakni Bali, Jawa, Madura, Melayu, Sasak, Bali Aga, Tionghoa, Sunda, Bugis, dan Flores. Data tersebut berasal dari hasil Sensus Penduduk 2000 dan 2010.

Artinya, angka 10 tidak seharusnya disebut sebagai “jumlah seluruh suku di Bali”. Angka tersebut lebih tepat disebut sebagai 10 kelompok suku bangsa yang masuk dalam pemetaan terbesar pada sumber tersebut.

Hal ini penting karena penduduk Bali juga mengalami migrasi dari provinsi lain. BPS bahkan menerbitkan statistik migrasi khusus Provinsi Bali yang mencakup migrasi seumur hidup dan migrasi risen, termasuk perpindahan dari dan menuju provinsi lain.

Suku asli yang ada di Bali

Jika yang dimaksud “suku asli Bali” adalah masyarakat yang secara historis menjadi penduduk asli Pulau Bali, pembahasannya tidak cukup hanya menggunakan daftar suku dalam statistik kependudukan.

Masyarakat Bali secara umum memiliki sejarah panjang sebelum dan sesudah masuknya pengaruh Majapahit. Salah satu kelompok yang sering dibahas dalam konteks masyarakat Bali awal adalah Bali Aga atau Bali Mula.

Bali Aga memiliki sejumlah komunitas desa tradisional dengan sistem sosial dan adat yang berbeda dari masyarakat Bali lainnya. Desa Sidetapa, misalnya, menjelaskan Bali Aga sebagai masyarakat yang lebih awal mendiami wilayah Bali dan memiliki kebudayaan yang berbeda dari masyarakat Bali Majapahit.

Bali Aga bukan sekadar nama suku

Ini bagian yang sering membingungkan ketika membahas suku yang ada di Bali.

Bali Aga memang sering disebut sebagai “suku Bali Aga” dalam artikel populer, tetapi dalam pembahasan akademis dan pemerintahan, istilah tersebut juga digunakan untuk menjelaskan kelompok masyarakat atau desa tradisional dengan karakter adat tertentu.

Karena itu, lebih aman menulis “masyarakat Bali Aga” atau “komunitas Bali Aga” daripada menyatakan bahwa Bali Aga merupakan suku yang sepenuhnya terpisah dari suku Bali dalam semua sistem klasifikasi.

BPS sendiri pernah memasukkan “Bali Aga” sebagai salah satu kategori dalam pemetaan suku bangsa Provinsi Bali.

Suku yang ada di Bali dan Nusa Tenggara

Jika pencarian diperluas menjadi “suku yang ada di Bali dan Nusa Tenggara”, cakupannya menjadi jauh lebih besar.

Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur memiliki keragaman etnis yang sangat tinggi. BPS menyebut Bali, Sasak, Atoni Metto, Manggarai, dan Bima sebagai kelompok suku bangsa terbesar dalam kawasan Kepulauan Bali dan Nusa Tenggara pada tabel komposisi suku bangsa yang disajikan dalam publikasi statistik.

Secara sederhana, beberapa kelompok yang sering dikaitkan dengan kawasan tersebut antara lain:

WilayahContoh suku bangsa
BaliBali, Bali Aga
NTBSasak, Bima, Sumbawa
NTTAtoni Metto, Manggarai, Sumba, Timor, Rote, Sabu

Daftar tersebut merupakan contoh kelompok etnis utama dan bukan daftar seluruh suku di Bali, NTB, dan NTT. Kawasan Nusa Tenggara sendiri memiliki banyak komunitas dengan identitas lokal yang berbeda-beda.

Suku yang ada di Bali, NTB, dan NTT

Bila pertanyaannya adalah “suku yang ada di Bali NTB NTT”, jawabannya tidak hanya satu atau dua kelompok.

Di Bali terdapat suku Bali sebagai kelompok utama, bersama masyarakat dari berbagai latar belakang etnis. Di NTB terdapat kelompok seperti Sasak, Bima, dan Sumbawa, sedangkan NTT memiliki berbagai kelompok seperti Manggarai, Sumba, Timor/Atoni Metto, Rote, dan Sabu.

Hubungan geografis antara Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, dan pulau-pulau lainnya membuat interaksi antarmasyarakat berlangsung sejak lama. Karena itu, batas administratif provinsi tidak selalu sama dengan batas persebaran sebuah suku.

Suku yang ada di Bali dan Jawa

Pertanyaan “suku yang ada di Bali dan Jawa” biasanya muncul karena banyak masyarakat Jawa tinggal di Bali.

Suku yang berasal dari Pulau Jawa tetapi dapat ditemukan di Bali antara lain Jawa, Madura, Sunda, dan beberapa komunitas lainnya. BPS mencatat Jawa, Madura, dan Sunda dalam kelompok suku yang teridentifikasi di Provinsi Bali.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persebaran suku bangsa Indonesia sangat dinamis. Seseorang dapat tinggal di Bali tanpa harus berasal dari suku Bali.

Suku dan masyarakat adat yang ada di Bali

Pembahasan mengenai suku di Bali akan lebih lengkap jika membedakan antara suku bangsa dan masyarakat adat.

Suku bangsa lebih berkaitan dengan identitas etnis, sedangkan masyarakat adat dapat memiliki sistem aturan, wilayah, kelembagaan, dan tradisi tertentu yang diwariskan dalam komunitas.

Di Bali, konsep desa adat sangat penting dalam kehidupan sosial dan budaya. Pemerintah Provinsi Bali menjelaskan bahwa desa adat memiliki karakter dan tradisi lokal yang beragam. Bahkan data yang dikutip BPKP menyebut jumlah desa adat di Bali mencapai 1.500 pada 2025.

Dengan demikian, seseorang dapat membahas “masyarakat adat Bali” tanpa harus menganggap setiap desa adat sebagai suku yang berbeda.

Contoh masyarakat adat Bali

Beberapa komunitas yang sering menjadi contoh dalam pembahasan masyarakat adat Bali antara lain:

  • masyarakat Desa Adat Tenganan;
  • masyarakat Trunyan;
  • masyarakat Sidetapa;
  • masyarakat Cempaga;
  • masyarakat Tigawasa;
  • masyarakat Pedawa;
  • masyarakat Banyuseri;
  • masyarakat Sembiran;
  • masyarakat Julah.

Sebagian di antaranya memiliki karakter Bali Aga yang kuat.

Apa perbedaan Bali Aga dan Bali Majapahit?

Istilah Bali Aga dan Bali Majapahit sering digunakan untuk menjelaskan dua corak perkembangan masyarakat Bali.

Bali Aga umumnya dikaitkan dengan masyarakat desa-desa tua yang mempertahankan tradisi sebelum atau relatif lebih sedikit mendapat pengaruh kebudayaan Majapahit. Sementara itu, masyarakat Bali Majapahit berkembang dengan pengaruh kuat dari kebudayaan Majapahit yang masuk ke Bali.

Perbedaan tersebut tidak berarti keduanya adalah dua kelompok yang benar-benar terpisah dalam kehidupan Bali modern. Keduanya merupakan bagian dari keragaman sejarah dan kebudayaan masyarakat Bali.

Desa Bali Aga yang terkenal

Bali Aga dapat ditemukan di sejumlah wilayah Bali. Buleleng menjadi salah satu daerah yang dikenal memiliki beberapa desa Bali Aga.

Pemerintah Kabupaten Buleleng menyebut tujuh desa Bali Aga, yaitu Sidetapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, Banyuseri, Sembiran, dan Julah.

Sementara itu, daftar desa Bali Aga yang sering dibahas dalam sumber pariwisata dan budaya juga mencakup Tenganan, Trunyan, dan sejumlah desa lainnya. Bahkan media nasional pernah mengulas delapan desa Bali Aga, termasuk Tenganan, Sidetapa, Trunyan, Cempaga, Pedawa, Tigawasa, Penglipuran, dan Batuan.

Perbedaan daftar tersebut terjadi karena istilah “Bali Aga” dapat digunakan dengan cakupan yang berbeda dalam sumber sejarah, budaya, pemerintahan, dan pariwisata.

Apa keunikan suku Bali?

Keunikan masyarakat Bali tidak hanya terlihat dari pakaian adat atau upacara keagamaan.

Budaya Bali terbentuk dari perpaduan sistem keagamaan, adat, kesenian, bahasa, arsitektur, sistem sosial, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan. Hal tersebut membuat identitas Bali sangat mudah dikenali tetapi tetap memiliki variasi antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Bahkan bahasa Bali sendiri memiliki variasi. Pada 2026, Balai Bahasa Provinsi Bali masih melakukan verifikasi kosakata bahasa Bali dialek Bali Aga di kawasan Panca Desa Buleleng, menunjukkan bahwa keragaman bahasa dan dialek lokal masih menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Bali.

Contoh budaya masyarakat Bali Aga

Bali Aga memiliki berbagai tradisi yang menjadi bagian dari identitas komunitasnya.

Salah satu contoh yang terkenal adalah Desa Tenganan Pegringsingan di Karangasem. Desa tersebut dikenal dengan tradisi dan tata ruang adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Tenganan juga terkenal dengan kain gringsing atau pegringsingan. Kain tersebut menjadi salah satu hasil budaya yang sangat identik dengan masyarakat Tenganan.

Di Buleleng, masyarakat Bali Aga juga mempertahankan bahasa dan tradisi lokal. Balai Bahasa Provinsi Bali pada Agustus 2026 bahkan melakukan verifikasi kosakata dialek Bali Aga bersama masyarakat penuturnya di Sidetapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, dan Banyuseri.

Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan suku di Bali bukan hanya soal jumlah penduduk, tetapi juga tentang keberlanjutan bahasa dan budaya.

Mengapa Bali memiliki banyak suku?

Ada beberapa faktor yang membuat Bali memiliki masyarakat yang beragam.

Letak geografis

Bali berada di jalur antara Jawa dan kawasan Nusa Tenggara. Posisi tersebut membuat hubungan antara Bali dengan pulau-pulau di sekitarnya berlangsung secara intensif.

Mobilitas penduduk

Perpindahan penduduk merupakan salah satu faktor utama. BPS mencatat bahwa statistik migrasi Bali mencakup perpindahan penduduk antarkabupaten/kota serta dari dan menuju provinsi lain.

Perdagangan dan pekerjaan

Aktivitas perdagangan, pariwisata, pendidikan, dan pekerjaan membuat masyarakat dari berbagai daerah datang dan tinggal di Bali.

Perkawinan dan hubungan sosial

Interaksi antarkelompok juga berlangsung melalui perkawinan dan hubungan keluarga. Dalam jangka panjang, hal ini membuat kehidupan masyarakat Bali semakin beragam.

Apakah semua orang yang tinggal di Bali adalah suku Bali?

Tidak.

Provinsi Bali dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar belakang suku bangsa. BPS telah mencatat keberadaan sejumlah kelompok seperti Jawa, Madura, Melayu, Sasak, Tionghoa, Sunda, Bugis, dan Flores selain suku Bali.

Data Long Form Sensus Penduduk 2020 juga menunjukkan adanya penduduk Bali yang lahir di provinsi lain. Angka migrasi seumur hidup Bali tercatat 6,10 persen.

Jadi, seseorang yang tinggal di Denpasar, Badung, Gianyar, Buleleng, atau wilayah Bali lainnya belum tentu berasal dari suku Bali.

Apakah Bali Aga termasuk suku Bali?

Dalam penggunaan sehari-hari, Bali Aga sering disebut sebagai kelompok atau subkelompok masyarakat Bali yang memiliki karakter budaya tersendiri.

Namun, istilah tersebut perlu digunakan secara hati-hati. Dalam statistik suku bangsa, BPS pernah mencantumkan Bali Aga sebagai kategori tersendiri dalam pemetaan suku bangsa Bali, sementara dalam kajian kebudayaan Bali Aga juga banyak digunakan untuk menjelaskan masyarakat dan desa tradisional dengan karakter adat tertentu.

Karena itu, jawaban paling aman adalah: Bali Aga merupakan komunitas masyarakat Bali yang memiliki sejarah dan kebudayaan khas, bukan sekadar “suku asing” yang berbeda dari Bali.

Kesimpulan

Suku yang ada di Bali sangat beragam dan tidak hanya terdiri atas suku Bali. Berdasarkan pemetaan BPS terhadap 10 kelompok suku bangsa terbesar di Provinsi Bali, terdapat Bali, Jawa, Madura, Melayu, Sasak, Bali Aga, Tionghoa, Sunda, Bugis, dan Flores.

Namun, daftar tersebut tidak sebaiknya dianggap sebagai jumlah mutlak semua suku yang ada di Bali. Data kependudukan terus berubah seiring migrasi, perpindahan penduduk, perkawinan, dan perkembangan masyarakat.

Jika yang kamu cari adalah suku asli atau masyarakat adat Bali, pembahasannya menjadi lebih menarik. Bali Aga atau Bali Mula merupakan salah satu komunitas penting dalam sejarah kebudayaan Bali dan masih mempertahankan berbagai tradisi, bahasa, serta tata kehidupan adat di sejumlah desa.

Jadi, ketika ditanya “suku apa saja yang ada di Bali?”, jawaban paling tepat bukan sekadar menyebut nama-nama suku. Bali merupakan wilayah dengan mayoritas masyarakat Bali sekaligus ruang pertemuan berbagai kelompok etnis Indonesia, dengan masyarakat adat dan tradisi lokal yang sangat beragam.